Tantangan Perubahan

Seminggu sudah kita melewati tahun 2012. Sesuatu yang hampir pasti disetujui, disepakati dan difahami oleh setiap orang adalah perubahan menuju kebaikan adalah suatu hal yang positif, Nanun pertanyaannya, mudahkah untuk berubah menjadi lebih baik, bahkan menuju kesempurnaan, jawabnya tidaklah mudah seperti teorinya. Ada beberapa kendala, tantangan, bahkan rintangan, cibiran, dan cemoohan untuk menjadi lebih baik.

Ketika rasulullah membulatkan tekad untuk menyampaikan kebenaran untuk orang disekitarnya, secara teori terkesan mudah. Bagaimana tidak seluruh kerabat, handai tolan, dan pembesar kuraisy dikumpulkan atas undangan beliau di bukit shafa, mereka ditanya tentang kejujuran beliau, mereka serentak menjawab dengan penuh keyakinan, bahwa beliau “Rasulullah” adalah sosok yang jujur, tidak pernah berbohong sekalipun, makanya apapun yang dikatakannya pasti merupakan kebenaran. Ketika mereka dicoba dengan pernyataan, jika beliau menyampaikan bahwa dibalik bukit shafa akan ada pasukan musuh yang akan menyerang, serta merta mereka mengatakan percaya dan tidak meragukan pernyataan itu.

Namun, tatkalah rasulullah menyampaikan tentang kebenaran kerasulannya, wajah mereka pucat memerah, bahkan sang paman abu lahab berdiri menghardik beliau. Inilah peristiwa yang menggambarkan melakukan sesuatu tidak semudah teorinya, akan banyak rintangan yang menghadang. Mencermati hal demikian, bukannya kita terus mundur untuk berubah, tapi mengantisipasi dan bersiap diri menghadapi rintangan dan tantangan tersebut.

Beberapa tantangan tersebut antara lain datang dari :

  1. Orang sekitar; seperti halnya pernyataan di atas, pada hakikatnya semua orang tahu tentang kebaikan, namun ketika temannya mencoba mempraktekkan tentang kebenaran itu, mereka bukannya mendukung, tapi malah melakukan penggebosan. Ketika ada sekolah yang berusaha menerapkan kejujuran dalam melaksanakan UN, pertanyaan dan pernyataan yang muncul adalah apakah itu tidak sama dengan bunuh diri, karena kalau ada siswa yang tidak lulus maka masyarakat akan menghukum sekolah tersebut sementara sekolah lain melakukan kecurangan dan sukses dalam UN yang akhirnya dipercaya masyarakat mampu mengantarkan anaknya mampu mengarungi kehidupan. Kasus lain, ketika seseorang mencoba menghilangkan budaya korupsi dan ketidak-adilan, teman dan koleganya berkata, “jaman sekarang kok nggak korupsi, semua orang dan pejabat korupsi, apapun bentuknya, bahkan dengan kepiawaianya dan kecerdasan yang dimilikinya korupsi yang dilakukan terkesan penyelamatan” sehingga pernyataan itu menggangu hati nuraninya. belum lagi dengan ketidak-adilan ketika menerima amanah kekuasaan baik dalam bentuk kolusi-isme, yang diberi kesempatan hanya kroninya meski dengan pola yang sangat halus dan terkesan tidak terasa, namun lagi-lagi hati nurani tidak akan dapat dibohongi. Berbagai kebaikan yang kita lakukan terkadang terhalang oleh orang sekitar kita.
  2. Harta;

(bersambung … )

Comments are closed.